Aulia Anindya

Sunyi lenggang, gelap gulita rasanya, walau aku yakin hari masih pagi. Perlahan kugoyangkan sayap mungilku, memaksanya untuk mengembang meski tak yakin apa kedua sayapku masih utuh. Dengan sedikit membuka mata, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Tak perlu waktu lama hingga aku sadar bahwa tubuhku tergeletak pada semak duri. Beberapa duri menyayat sayapku, mungkin ini yang menyebabkan mati rasa.


Namun, luka pada kedua sayap ini tak sebanding dengan luka yang tiba-tiba kurasakan saat melihat pohon tempatku dan kawananku tinggal, kini berubah menjadi bonggol kayu setinggi setengah meter. Pepohonan lain disekitarnya pun tak kalah mengenaskan nasibnya, menghitam dan beberapa telah menjadi abu.

Terlihat jejak-jejak besar pada abu tersebut, dengan garis-garis tapak sepatu menghiasi jejak tersebut. Entah bagaimana aku tahu bahwa manusia telah melakukan semua ini.

Dengan perih yang kurasakan menjalar pada luka sayapku, aku memanggil kawananku. Nihil, tak ada jawaban. Aku tak yakin mereka mampu terbang menghindar dengan kabut asap setebal ini. Lalu dimana mereka? Pikiran buruk akan mereka mulai membayangi, dan menemukan sebuah bulu pada sisa-sisa abu meyakinkan pikiranku.

Mungkin ini tak sepenuhnya salah manusia-manusia itu, mungkin ini juga salahku. Bukankah pernah kualami kejadian seperti ini dimasa lampau? Kenapa aku tak belajar dari pengalaman yang telah lalu dan berubah menjadi burung kolibri pemberani, bukan pengecut yang hanya bisa bersembunyi kala masalah datang.
Sekarang, kawananku menjadi korban. Aku selamat lagi, tapi tidak dengan mereka.

Tak ada gunanya bersedih dan berduka, itu tak akan membawa mereka kembali padaku. Namun, apa yang seekor burung kolibri bisa lakukan kecuali bersedih ketika kawanan mereka mati? Satu-satunya yang bisa bertanggung jawab adalah manusia-manusia itu. Seandainya aku bisa bicara, mungkin aku akan meminta pertanggung jawaban mereka.

Namun, walau aku dapat bicara,  apa yang dapat kuminta dari mereka? Menghidupkan kembali kawananku? Sementara yang bisa mereka lakukan hanya merusak dan membunuh makhluk hidup demi memuaskan keegoisan mereka.

***

Hitam legamnya jalan yang baru 3 hari di beri aspal seakan mendukung sang raja siang memuntahkan cahaya panasnya kepada penghuni bumi. Dari atas, kulihat beberapa pria-pria bertubuh besar dan perkasa mengutuki hari yang panas ini, seakan hal itu bisa mengurungkan niat sang raja untuk terus bersinar.

“Bertahun-tahun kawananku berteriak dan mencaci kalian atas apa yang kalian lakukan pada rumah kami. Sekarang saat kalian merasakan akibatnya, kalian menyalahkan sang raja siang? Benar-benar tak tahu diri.” Aku mengomel saat melintasi kepala berkeringat mereka. Salah seorang diantaranya mendengar dan membalas ocehanku dengan tersenyum dan bersiul, seakan ocehanku tadi candaan untuk menggoda mereka.

Kakiku bertengger pada sebuah pohon. Dengan jeli, mata bulatku meneliti setiap gerak-gerik manusia-manusia besar nan perkasa itu. Beberapa diantaranya mengenakan pelindung kepala berwarna putih. Apa yang mereka lakukan? Entahlah, aku masih mencari tahu.

“Kita akan membuat pagar pembatas melalui sawah di depan.” Tiba-tiba dua orang pria melintas dibawahku. Salah satunya membawa gulungan besar berwarna biru. Saat dia membuka gulungan biru itu, aku dapat melihat coretan tak jelas terpampang pada kertas itu. Beberapa kali gerakan jarinya menunjuk ke arah sawah di hadapannya.

“Tapi pak, bukan kah didepan sana terdapat pohon keramat milik warga desa yang tidak boleh ditebang? Disitu banyak pula pepohonan besar dan menyeramkan. Bagaimana jika, jika pohon itu berhantu?” Aku tertawa mendengar ucapan salah satu pria tersebut. Apa benar mereka masih mempercayai hantu?

“Aku tak peduli, mau pohon itu berhantu, beranak, yang jelas bos besar ingin membuat pembatas melalui sawah tersebut. Jika pohon itu menghalangi, tebang! Tebang hingga akarnya.”

Baiklah, aku tak yakin dengan apa yang kudengar tadi, mereka akan menebang pohon di tengah sawah itu? Mereka akan menebang pohon yang telah menjadi rumahku dan kawananku? Aku harus memberitahukan lainnya. Dengan segera aku terbang menjauhi tempat itu dan pulang.

Pohon tempat tinggalku ini telah menjadi rumah kawanan burung gereja sejak lama. Dengan kedatanganku kesini, pohon ini pun telah menjadi tempat tinggal salah satu burung kolibri. Dengan dikelilingi sawah dan beberapa semak belukar, tempat ini susah dijangkau oleh manusia. Jika terpaksa melewatinya, manusia-manusia itu sering ketakutan karena besar dan gelapnya pohon tempat tinggalku.

Namun bagi kawananku, pohon ini merupakan surga kami. Dengan banyaknya sumber makanan di sekitar kami, membuat kami mudah mencari makan walau musim tak menjanjikan.
Aku sendiri baru tinggal disini beberapa bulan. Saat pertama kali tiba disini, aku sempat ragu mereka akan menerimaku, mengingat kita berasal dari spesies yang berbeda. Namun, salah satu burung gereja tertua disini menerimaku setelah mendengar kesusahan yang ku alami.


“Lagi-lagi, berapa kali ketua melarangmu mengamati manusia di luar sana? Kami di sini mengkhawatirkanmu, kau malah asyik terbang di luar sana.” Seekor burung gereja yang tinggal denganku menyambutku dengan omelannya.

"Tak ada waktu untuk itu. Dimana ketua? Ada hal penting yang harus ku katakan."

Aku dapat melihatnya memutar bola matanya. "Apalagi sekarang? Manusia di luar sana akan merusak rumah kita? Mengancam akan memburu kita?" Dengan nada menghinanya, dia melanjutkan. "Satu-satunya ancaman kita adalah kau yang selalu berkeliaran dan mendekati manusia di luar sana. Kelakuanmu itu dapat membawa manusia-manusia itu ke tempat persembunyian kita ini."

Aku tak memperdulikannya. Percuma kukatakan padanya, dia tetap tak akan percaya, tak akan ada satu pun dari mereka yang percaya. Bukan karena aku tukang tipu atau apa, hanya saja aku pernah sekali salah dalam memberi mereka peringatan. Mungkin tak hanya sekali, tapi hampir sering. Tapi setidaknya kali ini aku yakin aku benar, dan satu-satunya burung gereja yang akan mendengar ceritaku adalah ketua.
"Tidak lagi burung muda, cukup sering kudengarkan kau mengatakan hal seperti ini, dan bukan tidak mungkin kali ini kau pun salah." Tanggapan burung gereja tertua itu tak sesuai harapanku. 

"Tapi aku yakin kali ini aku tak salah. Manusia-manusia di luar sana benar-benar akan menghancurkan pohon kita, aku mendengarnya sendiri." 

Dia menghela napas panjang. "Kau belum mengerti dengan betul lingkungan disini. Pohon kita benar-benar aman dari gangguan manusia, tak ada yang berani mendekati pohon lembap, besar dan menakutkan ini. Kiranya ada yang datang, tak satu pun dari mereka yang tertantang untuk kembali. Manusia-manusia itu adalah makhluk yang pengecut." Kata ketua dengan nada menenangkan.

"Kau lupa sesuatu, walau pengecut, manusia adalah makhluk berakal dan serakah. Mereka akan menggunakan otak besar mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dan jika mereka takut dengan tempat ini, aku yakin mereka akan mencari cara untuk menghadapi rasa takut mereka."

"Hanya untuk menebang sebuah pohon? Aku rasa tidak. Mereka lebih memilih meringkuk dalam ketakutan dan mimpi-mimpi buruk mereka daripada menghadapinya hanya untuk memperoleh hasil yang sedikit." Dengan tegas dia melanjutkan. "Lupakan apapun yang sekarang ada dipikiranmu, kita aman di sini. Aku telah hidup lebih lama dari masa hidupmu, aku dapat meyakinkanmu kita aman. Sekarang keluarlah, dan ingat! Jauhi manusia-manusia itu."

Mendengar perkataan ketua, tak ada yang dapat kulakukan. Aku pun pergi meninggalkan sarangnya dan kembali menuju sarangku.

"Dengar, keputusan ketua tepat untuk tidak mengambil langkah tergesa. Bisa jadi apa yang kau dengar itu hanya keinginan sesaat manusia yang nantinya mereka lupakan, seperti dulu." Kawan satu sarangku menghiburku.

Aku hanya mengangguk lemah setuju, meski benakku berontak. Pikiranku mendukung, telingaku pun menjadi saksi rencana kejam manusia-manusia itu. Cepat atau lambat mereka akan menghancurkan pohon ini, rumahku, lagi. Namun, apa yang seekor burung kolibri bisa lakukan?

Kawanku melanjutkan. "Aku tahu, tak mudah untukmu melupakan kawanan aslimu. Mungkin pula kau masih trauma dengan kejadian itu. Tapi di sini berbeda, kau hidup dengan kawanan gereja pemalu yang tak akan dekat dengan manusia. Jadi, kami akan tahu saat manusia datang."

Tidak, kau salah. Mungkin benar kau bisa merasakan kedatangan mereka. Tapi, sebelum kau bisa merasakannya, mereka telah membunuhmu terlebih dahulu. Aku tahu karena ini pernah terjadi padaku. Pikirku. Aku tak mengungkapkannya pada kawanku itu, karena aku tahu dia akan menyangkalnya.

***

Sekali lagi aku menghampiri manusia-manusia yang akan menebang tempat tinggalku. Sekedar memastikan, apakah mereka telah mengubah keinginan mereka. Aku harap apa yang ketua pikirkan benar, dan aku salah. Lebih baik aku dipermalukan oleh kawananku daripada melihat rumah mereka ditebang.

Tepat saat aku mencari dahan untuk bertengger, aku dikejutkan oleh suara bergemuruh, dilanjutkan dengan munculnya benda kuning besar lengkap dengan sebuah tangan besar dan kaku. 

"Kita harus selesaikan semuanya pagi ini! Segera siapkan alat-alat berat untuk meratakan pepohonan!" Aku mendengar suara pria yang kemarin ku lihat menggenggam gulungan kertas biru.

Aku tak tahu alat berat apa yang dimaksud, tapi pasti dimaksudkan untuk menghancurkan tempat tinggalku. Jika dengan ucapan saja kawananku tak percaya, maka dengan adanya benda kuning dan besar ini, aku yakin mereka akan percaya. Secepatnya aku mengepakkan sayap-sayapku, sebelum semua terlambat.

"Aku akan memerintahkan semuanya untuk bersembunyi dalam batang pohon. Setelah keadaan aman, baru aku akan mengajak mereka terbang." Perintah ketua saat aku mengatakan apa yang baru saja kulihat.

"Tapi, semuanya akan terlambat. Tolong dengarkan aku, kita harus pergi saat masih sempat." 

"Kau tahu mengapa tak ada satupun kawanan lamamu selamat? Karena mereka terbang saat manusia itu mulai menghancurkan. Jika mereka terbang lebih cepat atau menunggu saat semua aman, maka aku yakin kau tak akan bersama kami saat ini. Sekarang bantu aku mengajak semuanya bersembunyi."Mungkin karena rasa cemas dan khawatirku kehilangan kawananku untuk kedua kalinya, aku tak menyangkal lagi dan segera mengajak kawananku lainnya masuk ke batang pohon.

Dapat kurasakan rasa takut dan cemas dari kawananku. Mereka tak pernah mengalami hal ini, tentu mereka akan sangat ketakutan. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, aku sendiri tak yakin kita akan selamat.

Baru sesaat kami bersembunyi, aku dapat merasakan hentakan dahsyat saat manusia-manusia itu mulai menebang pohon. Aku dapat mendengar teriakan burung-burung gereja yang mulai ketakutan. Berkali-kali ketua menenangkan mereka, namun itu saja tak cukup membuat mereka tenang. 

Tiba-tiba guncangan itu berakhir. Dalam kepanikan luar biasa yang baru saja terjadi, diberi keheningan seperti ini mampu membuat mereka diam dan tenang. Beberapa diantara mereka pun mulai meminta ijin ketua untuk pergi dari persembunyian. 

"Kita harus memastikan terlebih dahulu, apakah semua aman. Adakah dari kalian yang ingin memastikannya?" Ocehan yang sedetik tadi terdengar, hilang seketika saat ketua mencari relawan. Tentu saja tak akan ada yang mau mengorbankan nyawanya dengan menantang maut yang mungkin menanti mereka di luar sana. Sekali lagi, mereka hanyalah burung gereja pemalu.

"Kalau begitu, kita akan menunggu sampai benar-benar aman."

"Aku akan keluar dan memeriksa keadaan." Kataku seketika. Entah apa yang merasukiku, yang jelas, aku tak ingin kehilangan kawananku lagi. Jika dulu aku hanyalah burung pengecut yang bersembunyi saat ada masalah, maka aku akan menebus semua kesalahanku saat ini. 

Kukepakkan sayapku perlahan menuju lubang pada batang pohon. Tak kuhiraukan ketua yang memanggilku. Tekadku bulat, aku lah yang akan menyelamatkan mereka.

Ketakutanku hilang saat ku lihat tak ada satupun manusia di luar. "Keluar lah, keadaan aman! kita selamat!" 

Tiba-tiba, saat ku lihat satu persatu kawananku keluar, sesuatu memukul kepalaku cukup keras. Aku dapat melihat benda yang memukulku berwarna kuning, serta mencium bau hangus sebelum semuanya menjadi gelap.



Label:
0 Responses

Posting Komentar